Rabbisyrah lii shadrii, wa yassir lii amrii, Wahlul’uqdatam mil lisaanii, yafqahuu qaulii.
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah segala urusanku. Lepaskanlah halangan dari lidahku, agar mereka memahami ucapanku.” (Qs Thaaha (20): 25-28)
Penjelasan::
Ketika Nabi Musa as, diperintahkan Allah untuk mendatangi Fir’aun dan pengikutnya guna menyampaikan seruan Tauhid dan melakukan keadilan, Beliau memohon kepada Allah supaya dibebaskan dari rasa gugup dan rasa takut. Musa memohon kepada Allah agar dadanya dilapangkan dan pekerjaannya dimudahkan supaya dapat menyampaikan seruan kepada Fir’aun dan pengikutnya dengan sikap tegas dan dengan cara yang mudah. Selain itu, Nabi Musa yang kelu lidahnya memohon agar lidahnya dijadikan lancar mengucapkan kata-kata apa saja. Karena kelancaran lidah dalam mengucapkan kata-kata sangat berperan besar dalam memudahkan pendengarnya memahami ucapannya.
Nabi Musa menyadari bahwa orang yang mendengar ucapan yang keluar dari liudah yang kelu bisa menimbulkan kesalahpahaman terhadap pengucapnya. Karena iatu, orang yang berbicara dengan orang lain sangat perlu mengucapkan kata-katanya dengan jelas. Dengan kata-kata yang jelas itu pendengar dapat mengerti apa yang dimaksud oleh pengucapnya. Itulah sebabnya Nabi Musa memohon kepada Allah agar lidahnya dijadikan lancar dalam mengucapkan semua kata yang ingin dikeluarkan dan pendengarnya dijadikan mudah memahaminya.
Do’a Nabi Musa as di atas memberi pedoman bahwa bila kita merasa gugup dan takut menyampaikan kebenaran kepada orang lain, maka hendaklah kita memohon ke pada Allah supaya rasa gugup dan takut itu dihilangkan dari hati kita. Dengan demikian, kita dapat menyampaikan kebenaran dan peringatan dengan jelas dan mudah kepada orang yang menjadi sasaran kita sehingga maksud kita menyampaikan seruan dan pembicaraan kepadea mereka tercapai.